Detikkasus.co.id 16 januari 2026
Bandung – Kapolda Jawa Barat Irjen Pol. Rudi Setiawan menegaskan bahwa keterbukaan komunikasi publik merupakan fondasi penting dalam membangun kepercayaan masyarakat terhadap institusi kepolisian. Karena itu, ia meminta seluruh kapolres di jajaran Polda Jawa Barat untuk aktif berinteraksi dengan media massa dan tidak menghindari ruang publik.
Penegasan tersebut disampaikan Rudi saat menerima kunjungan tim detikcom bersama pengurus Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Jawa Barat di Mapolda Jabar, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Senin (12/1/2026).
Pertemuan berlangsung dalam suasana dialogis dan penuh keakraban. Diskusi sempat terhenti sejenak ketika tepat pukul 10.00 WIB lagu kebangsaan Indonesia Raya dikumandangkan melalui pengeras suara internal Mapolda Jabar. Seluruh aktivitas dihentikan sementara, seluruh hadirin berdiri sebagai bentuk penghormatan terhadap simbol negara sekaligus pengingat nilai nasionalisme dalam pengabdian.
Usai lagu kebangsaan berakhir, Kapolda Jabar kembali melanjutkan dialog bersama jajaran pejabat utama Polda Jabar, antara lain Kabid Humas Kombes Pol. Hendra Rochmawan, Dirlantas Kombes Pol. Raydian Kokrosono, serta Dirintelkam Kombes Pol. Sukendar Eka Ristyan.
Dalam forum tersebut, berbagai isu strategis terkait keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) menjadi bahan pembahasan, termasuk dinamika sosial di wilayah Jawa Barat serta peran media dalam membentuk persepsi publik.
Rudi menilai media massa memiliki fungsi vital sebagai mitra kepolisian dalam menjaga stabilitas sosial. Melalui pemberitaan yang akurat, berimbang, dan bertanggung jawab, media dapat menjadi jembatan antara kebijakan kepolisian dan kebutuhan informasi masyarakat.
“Saya meminta seluruh kapolres untuk aktif berbicara kepada media. Jangan menghindari wawancara. Justru melalui media, kita dapat menjelaskan kerja-kerja kepolisian secara terbuka kepada masyarakat,” ujar Rudi, Rabu (14/1/2026).
Menurutnya, keterbukaan komunikasi tidak hanya berfungsi sebagai sarana publikasi kinerja, tetapi juga sebagai mekanisme kontrol sosial yang sehat bagi institusi kepolisian. Kritik dan masukan dari publik melalui media harus dipandang sebagai bagian dari proses perbaikan berkelanjutan
“Kepercayaan publik tidak dibangun dari klaim sepihak, tetapi dari keterbukaan, konsistensi, dan kesediaan untuk dikritik,” katanya.
Rudi juga mengingatkan bahwa era digital menuntut kecepatan dan ketepatan informasi. Kapolres, sebagai pimpinan wilayah, harus mampu hadir di ruang publik, menjelaskan kebijakan, serta meredam potensi disinformasi yang dapat memicu keresahan sosial.
Sinergi Polri dan Media
Dalam pertemuan tersebut, Kapolda Jabar menegaskan komitmennya untuk memperkuat sinergi antara Polri dan media massa sebagai mitra strategis dalam menjaga kamtibmas. Ia menilai hubungan yang sehat antara kepolisian dan media akan menghasilkan ekosistem informasi yang lebih konstruktif.
Ia juga mengapresiasi peran jurnalis yang selama ini konsisten mengawal isu-isu publik, termasuk dalam bidang penegakan hukum dan pelayanan kepolisian.
” Media memiliki peran penting dalam mendidik masyarakat. Karena itu, komunikasi antara Polri dan media harus dibangun di atas dasar saling percaya dan saling menghormati,” ujarnya
Program Sauyunan Jaga Lembur
Sejak menjabat sebagai Kapolda Jawa Barat pada April 2025 menggantikan Irjen Pol. Akhmad Wijagus, Rudi menginisiasi program Sauyunan Jaga Lembur sebagai pendekatan keamanan berbasis kearifan lokal.
Program tersebut mengadopsi nilai budaya Sunda, di mana sauyunan berarti kebersamaan dan jaga lembur bermakna menjaga kampung halaman. Konsep ini diarahkan untuk memperkuat sinergi antara Polri, pemerintah daerah, dan masyarakat.
“Keamanan tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab polisi. Masyarakat harus menjadi subjek utama dalam menjaga lingkungannya sendiri” ujar Rudi
Melalui program ini, masyarakat didorong untuk menjadi “polisi bagi dirinya sendiri”, keluarga, dan lingkungannya dengan mengedepankan kesadaran kolektif serta kepedulian sosial.
Hingga saat ini, program Sauyunan Jaga Lembur telah melibatkan berbagai elemen masyarakat, mulai dari komunitas buruh, nelayan, kelompok pemuda, hingga ribuan pengemudi ojek daring yang berperan sebagai mitra strategis kepolisian dalam menjaga keamanan di ruang publik.
Program tersebut juga diintegrasikan dengan kegiatan patroli dialogis, edukasi hukum, serta pemberdayaan masyarakat berbasis wilayah.
Menjaga Kepercayaan Publik
Kapolda Jabar menutup pertemuan dengan menekankan bahwa keberhasilan Polri dalam menjaga kamtibmas sangat bergantung pada kepercayaan publik. Tanpa dukungan masyarakat, upaya penegakan hukum dan pemeliharaan keamanan tidak akan berjalan optimal.
“Kita tidak bisa bekerja sendiri. Polri, media, pemerintah daerah, dan masyarakat harus berjalan bersama. Di situlah makna sauyunan yang sesungguhnya,”katanya.
Dengan semangat kolaborasi tersebut, Polda Jawa Barat berharap tercipta iklim keamanan yang kondusif, partisipatif, dan berkelanjutan di seluruh wilayah provinsi.
Hayu, sauyunan jaga lembur,” pungkas Rudi.
Am/tim.red
Tidak ada komentar