Detikkasus.co.id, SUKABUMI — Di atas tempat tidur, tubuh Irwana (72) nyaris tak lagi mampu bergerak. Untuk sekadar duduk, perempuan lanjut usia warga RT 04/04, Kelurahan Genteng, Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi, itu harus diangkat. Untuk bergeser, tubuhnya harus digendong. Bahkan untuk buang air besar, ia harus menggunakan pispot di tempat tidur.
Namun ada satu hal yang membuat keluarganya terpukul:
Irwana tercatat dalam desil 9, Status tersebut diketahui keluarga setelah petugas kelurahan datang melakukan kunjungan dan pengecekan data, Bagi keluarga, kondisi tersebut terasa janggal jika dibandingkan dengan kehidupan Irwana sehari-hari yang serba terbatas.
Hampir tiga tahun Irwana menderita sakit. Setelah sebelumnya mengalami gangguan ginjal dan menjalani operasi, kondisi fisiknya berubah. Sebagian tubuhnya menjadi kaku dan kemampuan bergeraknya sangat terbatas.
“Jadi pertamanya itu dia ginjalnya, terus dibawa ke rumah sakit dioperasi. Setelah dioperasi jadi kayak begini, sebagian kaku tidak bisa digerakkan, jadi enggak bisa ngapa-ngapain,” ujar Yanti (67), adik kandung Irwana, kepada sukabumiupdate.com, Kamis (10/9/2026).
Untuk duduk saja, Irwana tak mampu melakukannya sendiri.
“Kalau mau pindah atau geser juga harus diangkat, digendong sama anaknya,” kata Yanti.
Di balik kondisi kesehatan yang memprihatinkan, kehidupan ekonomi keluarga Irwana juga jauh dari kata mapan.
Irwana hanya tinggal bersama anaknya, Sang anak bekerja sebagai juru parkir di terminal dengan sistem dua hari sekali. Penghasilannya tidak menentu. Bahkan ada kalanya pulang tanpa membawa uang.
Ketika mendapatkan penghasilan, uang tersebut harus diprioritaskan untuk kebutuhan makan, Kondisi paling memilukan terjadi ketika uang tidak cukup, Satu bungkus nasi bisa harus dibagi untuk dua orang.
“Kadang-kadang enggak dapat uang. Kalau ada juga beli nasi bungkus satu dimakan berdua. Di rumah ini cuma berdua, ibu sama anak aja,” ungkap Yanti.
Ironisnya, menurut keterangan keluarga, Irwana juga selama ini tidak pernah menerima bantuan sosial.
“Nggak pernah dapat bansos, apalagi sekarang masuk desil 9,” katanya.
Keluarga mengaku tidak pernah mengetahui sebelumnya Irwana berada pada desil berapa.
Mereka baru mengetahui status tersebut ketika petugas kelurahan melakukan kunjungan dan pengecekan.
“Saya tahu itu setelah ada kunjungan dari kelurahan, pas dicek ternyata kakak saya ini masuk desil 9, sementara keadaannya kayak begini,” ujar Yanti.
Ia juga mengaku tidak mengetahui apakah status desil tersebut sebelumnya pernah berubah.
“Enggak ngerti saya, enggak pernah ngecek juga sebelumnya. Yang pasti pas dicek itu sekarang masuk desil 9,” tuturnya.
Persoalannya kemudian bukan sekadar angka desil 9.
Pertanyaannya adalah:
Apakah data kesejahteraan sudah benar-benar menggambarkan kondisi warga di lapangan?
Sebab di satu sisi ada data administratif.
Di sisi lain, ada seorang perempuan berusia 72 tahun yang tak mampu berjalan, tak mampu berdiri sendiri, bergantung kepada anak, dan disebut keluarga harus bertahan dengan kondisi ekonomi yang sangat memprihatinkan.
Yanti mengatakan pihak kelurahan telah menyampaikan bahwa status desil Irwana akan diupayakan untuk diperbaiki atau diturunkan.
Namun proses tersebut tidak dapat dilakukan seketika.
“Kata orang kelurahan sih katanya mau diturunin, tapi kan diturunin juga enggak instan, masih harus nunggu,” ujarnya.
Kini keluarga hanya bisa menunggu proses pemutakhiran data.
Namun bagi Irwana, kebutuhan hidup tidak bisa menunggu terlalu lama, Rasa lapar tidak menunggu pembaruan data, Kebutuhan berobat tidak menunggu sistem diperbaiki.
Dan tubuh yang sudah tiga tahun tak mampu berjalan tidak bisa begitu saja menunggu angka di dalam data berubah.
Persoalan Irwana ternyata bukan hanya soal kesehatan dan kebutuhan makan, Rumah yang ditempatinya bersama sang anak juga disebut dalam kondisi membutuhkan perhatian.
Sejumlah bagian rumah mengalami kebocoran. Saat musim hujan tiba, ember harus disiapkan di beberapa titik untuk menampung air yang masuk dari atap.
“Sekarang keadaan rumahnya pada bocor. Sekarang kan musim kemarau, tapi kalau sudah musim hujan itu biasanya banyak ember di sini, soalnya pada bocor,” tutur Yanti.
Gambaran tersebut semakin memperlihatkan beratnya kondisi keluarga Irwana.
Seorang lansia sakit, Tak mampu berdiri, Tak memiliki penghasilan sendiri, Bergantung kepada anak, Anaknya pun bekerja dengan penghasilan yang tidak pasti.
Rumah mengalami kebocoran, Dan menurut keluarga, bantuan sosial juga tidak pernah diterima, Tetapi data yang diketahui keluarga justru menunjukkan desil 9.
Persoalan perubahan status desil ternyata tidak hanya dialami Irwana, Yanti mengaku dirinya juga mengalami perubahan status, dari desil 3 menjadi desil 6.
Perubahan itu, menurut Yanti, berdampak pada bantuan yang sebelumnya ia terima.
“Biasanya dapat beras, dapat minyak, sekarang tidak,” ungkapnya.
Kondisi ini membuat keluarga mempertanyakan bagaimana proses pemutakhiran data dilakukan dan bagaimana memastikan data tersebut benar-benar sesuai dengan kondisi masyarakat.
Sebab ketika sebuah angka menentukan siapa yang dianggap layak mendapatkan bantuan, kesalahan atau ketidaksesuaian data bukan lagi sekadar persoalan administrasi.
Bagi masyarakat kecil, angka itu bisa menentukan apakah mereka mendapatkan bantuan untuk bertahan hidup atau justru harus berjuang sendirian.
Kini keluarga Irwana berharap pemerintah turun langsung memastikan kondisi sebenarnya, Bukan sekadar melihat angka, Bukan hanya membaca data.
Tetapi datang, melihat, dan menyaksikan sendiri bagaimana seorang perempuan 72 tahun menjalani hari-harinya di atas tempat tidur.
Karena pada akhirnya, kesejahteraan bukan hanya soal apa yang tertulis di dalam sistem.
Kesejahteraan adalah tentang apakah seorang lansia yang sudah tak mampu berdiri masih bisa makan dengan layak, berobat, dan menjalani hidup dengan manusiawi.
Dan kasus Irwana menyisakan satu pertanyaan besar:
JIKA KONDISI SEPERTI INI MASIH TERCATAT DESIL 9, LALU SIAPA YANG SEHARUSNYA DIANGGAP LEBIH LAYAK MENERIMA PERLINDUNGAN?
Tidak ada komentar