Pertalite Tetap, Tapi Harga Dexlite & Turbo Melejit: Warga Kota Pontianak Tetap Cemas Dampak Harga Barang

waktu baca 3 menit
Sabtu, 18 Apr 2026 13:11 59 Redaksi : Rd

PONTIANAK, Detikkasus co.id 18 April 2026 – Kebijakan penyesuaian harga BBM nonsubsidi yang berlaku mulai hari ini, Sabtu (18/4), memicu keresahan di tengah masyarakat Kota Pontianak. Meski pemerintah memastikan harga BBM subsidi seperti Pertalite (Rp10.000) dan BioSolar (Rp6.800) tidak naik, lonjakan drastis pada jenis bahan bakar lain diprediksi akan tetap memicu kenaikan biaya hidup.Berdasarkan data terbaru di Kalimantan Barat, harga Dexlite melonjak signifikan menjadi Rp24.150 per liter dan Pertamax Turbo menyentuh angka Rp19.850 per liter.

Warga menilai selisih harga yang terlalu jauh antara BBM subsidi dan nonsubsidi akan memicu masalah baru, mulai dari kelangkaan Pertalite akibat perpindahan konsumen hingga potensi kenaikan ongkos logistik.

Hendra (42) warga Nusa Indah, Parma, seorang pekerja jasa di Pontianak,dan bapak Soni Afrizal warga grand parma residence 1 parma menyatakan bahwa kenaikan Dexlite yang mencapai lebih dari Rp9.000 per liter sangat memukul operasionalnya.

“Memang Solar subsidi tidak naik, tapi stoknya di SPBU sering terbatas dan antreannya luar biasa. Mau tidak mau kami kadang pakai Dexlite supaya mesin awet dan kiriman barang lancar. Kalau harganya naik segila ini, terpaksa tarif angkut barang saya naikkan juga bulan depan,” ujarnya saat ditemui di area pelabuhan rakyat.

Kehawatiran serupa dirasakan oleh para pedagang di Pasar Mawar dan Pasar Sudirman. Kenaikan BBM jenis diesel (Dexlite) secara langsung berdampak pada truk-truk pengangkut sembako yang masuk ke Pontianak dari arah Singkawang maupun luar daerah.

“Pertalite memang tidak naik, tapi barang yang saya jual kan diantar pakai mobil besar. Kalau biaya angkut mereka naik karena Dexlite naik, harga sawi, cabai, dan bawang di lapak saya pasti ikut mahal. Pembeli mana mau tahu Pertalite naik atau tidak, yang mereka tahu harga belanjaan makin mencekik,” tuturnya ketus.

Menanggapi situasi ini, tokoh masyarakat setempat berharap pihak berwenang di Pontianak melakukan pengawasan ketat di setiap SPBU. Hal ini untuk mencegah terjadinya aksi borong Pertalite oleh pengguna kendaraan mewah yang ingin berhemat, yang justru bisa merugikan masyarakat kecil.

Hingga sore ini, antrean kendaraan di jalur Pertalite di beberapa SPBU Kota Pontianak terpantau lebih panjang dari biasanya, menunjukkan kecenderungan warga untuk mengamankan stok bahan bakar di tengah ketidakpastian ekonomi global.Apakah menurutmu kebijakan mempertahankan harga subsidi sudah cukup membantu, atau pemerintah perlu melakukan langkah tambahan agar harga kebutuhan pokok di Pontianak tidak ikut meroket?

Prediksi Kelangkaan dan Migrasi Konsumen

Pengamat ekonomi lokal memprediksi akan terjadi tekanan besar pada stok Pertalite di Pontianak. Selisih harga yang sangat jauh antara Pertalite (Rp10.000) dan Pertamax (Rp14.500) dikhawatirkan memicu pemilik kendaraan pribadi kelas menengah untuk bermigrasi ke BBM bersubsidi.

“Jika pengawasan di lapangan tidak diperketat, kita akan melihat antrean panjang di jalur Pertalite di sepanjang jalan protokol Pontianak. Ini bisa menciptakan kelangkaan semu yang merugikan mereka yang benar-benar berhak atas subsidi,” ungkap salah satu praktisi ekonomi di Kalimantan Barat.

Kondisi Lapangan Hingga sabtu malam, arus lalu lintas di sejumlah SPBU di Pontianak seperti SPBU Paris II dan SPBU Kota Baru terpantau padat merayap. Beberapa petugas kepolisian tampak berjaga untuk memastikan transisi harga berjalan lancar dan menghindari aksi penimbunan.

Pemerintah daerah diharapkan segera melakukan langkah antisipasi, seperti operasi pasar, guna meredam kenaikan harga kebutuhan pokok yang biasanya langsung mengikuti setiap ada kabar kenaikan harga BBM, jenis apa pun itu.

Wartawan: Julianto

Tanggal: 18 April 2026

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA