DIDUGA MAFIA BBM BERSUBSIDI BERKEDOK POM MINI! Aktivitas Pertalite Diduga Dipindahkan ke Jerigen, Sosok Mengaku Wartawan Malah Membentak: “Kamu Siapa? Saya Juga Media, Bos!”

waktu baca 4 menit
Senin, 10 Agu 2026 05:22 108 Redaksi : Mfs

Detikkasus.co.id, BOGOR –  Aroma dugaan permainan BBM bersubsidi kembali mencuat di Kabupaten Bogor. Kali ini, aktivitas yang diduga berkaitan dengan penyalahgunaan Pertalite menjadi sorotan setelah sejumlah kendaraan roda dua jenis Thunder disebut bolak-balik mengisi BBM di SPBU Pertamina 34.16803, sebelum BBM tersebut diduga dipindahkan ke dalam jerigen berkapasitas sekitar 35 liter.

Lokasi yang menjadi perhatian berada di sekitar sebuah warung bertuliskan “RADAR MADURA”, kawasan perumahan Gandoang, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Bukan sekadar soal BBM.

Yang membuat persoalan ini semakin panas adalah munculnya sosok yang disebut-sebut berinisial CY, yang mengaku sebagai wartawan sekaligus pengurus Radar Madura di wilayah Bogor Timur. Sosok tersebut diduga memberikan pembelaan terhadap aktivitas yang dipersoalkan dan bahkan mempertanyakan keberadaan pihak yang melakukan peliputan.

PERTALITE MASUK TANGKI, KELUAR KE JERIGEN?

Informasi yang dihimpun menyebutkan, beberapa sepeda motor Thunder terlihat melakukan pengisian BBM jenis Pertalite secara berulang. BBM tersebut kemudian diduga dipindahkan ke jerigen berukuran sekitar 35 liter.

Pola seperti ini tentu menimbulkan pertanyaan serius: untuk kepentingan apa BBM bersubsidi yang seharusnya dinikmati masyarakat justru dikumpulkan dalam jumlah tertentu?

Apalagi jika aktivitas tersebut dilakukan berulang dan terorganisir.

Di lokasi, seorang penjaga warung ketika ditemui memberikan keterangan bahwa orang-orang tersebut hanya sekadar teman yang datang dan menggunakan lokasi tersebut.

«“Ini hanya teman-teman aja pada numpang ke sini, Mas. Bukannya nggak masalah, ya Mas, nggak ada larangan. Sebentar saya telepon dulu, ya Mas,” ujarnya.»

Namun, situasi berubah ketika penjaga warung menghubungi seseorang melalui telepon seluler.

“KAMU SIAPA? NGAPAIN KE SITU?”

Dari percakapan tersebut, seorang pria yang mengaku sebagai pengurus RADAR MADURA sekaligus wartawan di wilayah Bogor Timur berinisial CY, justru mempertanyakan identitas pihak yang datang ke lokasi.

Dengan nada tegas, ia disebut mengatakan:

«“Kamu siapa, ngapain ke situ? Kamu dari media mana? Saya pengurus dari RADAR MADURA, saya juga media, Bos. Bukannya boleh kegiatan tersebut dan tidak ada larangan. Ketemu aja kamu sama saya. Tunggu aja kamu lah.”»

Pernyataan tersebut sontak menimbulkan tanda tanya.

Mengapa aktivitas pengisian Pertalite berulang dan dugaan pemindahan BBM ke jerigen harus dibela dengan membawa-bawa identitas media?

Apakah benar kegiatan tersebut memiliki dasar hukum?

Atau justru ada pihak tertentu yang merasa memiliki kewenangan untuk membenarkan aktivitas yang seharusnya menjadi perhatian aparat?

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang kini menunggu jawaban.

MEDIA ATAU “TAMENG” AKTIVITAS BBM Bersubsidi?

Jika benar seseorang menggunakan status atau identitas sebagai wartawan untuk memberikan kesan bahwa sebuah aktivitas tidak bermasalah, maka persoalannya menjadi semakin serius.

Sebab, pers bukanlah tameng untuk membenarkan dugaan pelanggaran hukum.

Begitu pula sebaliknya, seseorang yang mengaku sebagai wartawan tentu berhak melakukan aktivitas jurnalistik. Namun, status tersebut tidak otomatis memberikan kewenangan untuk membebaskan seseorang atau kelompok dari pemeriksaan apabila terdapat dugaan pelanggaran hukum.

Masyarakat berhak mengetahui:

Siapa sebenarnya CY?

Apa kapasitasnya di Radar Madura?

Apakah benar dirinya wartawan?

Apa hubungan dirinya dengan aktivitas pengumpulan Pertalite tersebut?

Dan yang paling penting:

Apakah aktivitas pengisian berulang menggunakan sepeda motor kemudian memindahkan BBM ke jerigen tersebut memang diperbolehkan dan sesuai ketentuan?

WARGA MULAI RESAH, APARAT DIMINTA TURUN TANGAN

Dugaan aktivitas tersebut kini menjadi perhatian warga sekitar. Masyarakat meminta aparat tidak hanya berhenti pada teguran atau pemeriksaan permukaan.

Jika benar ditemukan adanya pola pembelian BBM bersubsidi secara berulang untuk kemudian dikumpulkan, ditampung, atau diperjualbelikan kembali, maka aparat diminta mengusut rantai distribusinya hingga ke pihak yang diduga menjadi penampung maupun pengendali.

Sebab persoalannya bukan hanya mengenai jerigen. Ini menyangkut BBM bersubsidi yang menggunakan uang negara dan seharusnya diperuntukkan bagi masyarakat yang membutuhkan.

Jika subsidi justru diduga disedot oleh kelompok tertentu untuk kepentingan pribadi, maka masyarakatlah yang kembali menjadi korban.

APARAT JANGAN SAMPAI KALAH CEPAT

Publik kini menunggu tindakan nyata aparat penegak hukum.

Polisi diminta memeriksa aktivitas di lokasi, mengecek rekaman CCTV SPBU, menelusuri kendaraan yang diduga melakukan pengisian berulang, memeriksa asal-usul jerigen, serta mengklarifikasi sosok yang mengaku sebagai wartawan tersebut.

Jika dugaan tersebut terbukti memiliki unsur pidana, masyarakat berharap proses hukum dilakukan secara tegas.

Sebaliknya, apabila seluruh aktivitas tersebut ternyata memiliki dasar hukum dan tidak ditemukan pelanggaran, maka aparat juga harus memberikan penjelasan secara terbuka agar tidak terjadi prasangka di tengah masyarakat.

Satu hal yang jelas:

Pertalite bukan milik mafia.

Subsidi bukan ruang bebas untuk dipermainkan.

Dan identitas media bukan kartu sakti untuk kebal dari pemeriksaan.

Detikkasus.co.id akan terus melakukan penelusuran dan meminta klarifikasi dari pihak-pihak terkait, termasuk pengelola SPBU, aparat penegak hukum, pihak yang mengaku sebagai pengurus Radar Madura, serta pihak lain yang berkaitan dengan dugaan aktivitas tersebut.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA