Kerinci, 28 Juli 2026 – Peristiwa yang melibatkan Anisa Pratama alias “Itek Mamek” dan keluarga ASG di Kabupaten Kerinci kembali menjadi perhatian publik setelah sebelumnya beredar klaim bahwa Anisa menjadi korban penyerangan dan penganiayaan.
Namun, pihak keluarga ASG menyampaikan versi kronologi yang berbeda. Menurut mereka, insiden tersebut bermula dari dugaan provokasi yang dilakukan Anisa di depan kediaman mereka.
ASG menceritakan, pada sore hari, 2 Juli 2026, keluarganya sedang menerima tamu yang datang untuk bersilaturahmi. Setelah tamu tersebut meninggalkan rumah, terdengar teriakan dari arah rumah Anisa yang letaknya berhadapan dengan rumah mereka.
“Ketika tamu saya pergi, beliau berteriak, ‘Bayarlah hutang woi, bayarlah hutang woi.’ Mendengar itu saya langsung menelepon Kepala Desa Sebukar agar menegur beliau supaya tidak mengada-ada. Selang beberapa menit, saat mertua saya berada di pekarangan rumah, beliau kembali berteriak dengan kalimat yang sama,” ujar ASG saat menceritakan peristiwa tersebut.
ASG mengaku keluarganya selama ini memilih tidak menanggapi berbagai unggahan di media sosial yang menurutnya terus menyinggung persoalan utang dengan bahasa yang dinilai menyudutkan.
Menurut ASG, adu mulut terjadi karena keluarganya merasa terus ditagih atas utang yang mereka klaim telah dilunasi.
“Siapa pun pasti akan terusik jika ditagih utang padahal utang tersebut sudah dibayar. Berteriak-teriak menagih utang di depan rumah tentu tidak bisa ditoleransi. Kami menduga tindakan itu memang bertujuan mempermalukan keluarga kami,” katanya.
Lebih lanjut, ASG membantah adanya tindakan penyerangan maupun penganiayaan sebagaimana yang beredar di media sosial.
Ia menjelaskan bahwa tindakan yang terjadi saat itu, menurut versinya, merupakan upaya menghentikan Anisa dan adiknya yang terus merekam video menggunakan telepon genggam ketika adu mulut berlangsung.
“Tidak ada penyerangan atau penganiayaan. Yang ada adalah upaya kami menghentikan beliau dan adiknya agar berhenti membuat video. Keterangan yang sama juga telah kami sampaikan saat dimintai klarifikasi oleh pihak Polres Kerinci,” jelas ASG.
ASG juga menyebut keluarganya merasa telah menjadi sasaran perundungan di media sosial. Ia mengklaim berbagai unggahan yang dibuat Anisa tidak hanya menyasar dirinya, tetapi juga istri, adik, bahkan orang tuanya yang telah meninggal dunia.
Sementara itu, pengamat media sosial Ridho menilai masyarakat perlu lebih berhati-hati dalam menyikapi informasi yang viral di media sosial. Menurutnya, sebuah peristiwa sebaiknya dipahami secara utuh sebelum publik membentuk opini.
“Pengguna media sosial harus lebih selektif dalam berkomentar maupun membagikan suatu postingan, terutama jika informasi yang beredar belum jelas duduk persoalannya. Mendengar penjelasan dari seluruh pihak merupakan bagian penting agar tidak menimbulkan fitnah maupun opini liar di tengah masyarakat,” ujar Ridho.
Ridho menambahkan bahwa reaksi spontan seseorang dalam situasi emosional merupakan hal yang manusiawi. Namun, ia menilai masyarakat tetap perlu menunggu seluruh fakta dan proses klarifikasi agar informasi yang berkembang tidak hanya bertumpu pada satu versi kejadian.
Hingga berita ini ditulis, belum terdapat keterangan resmi yang menyimpulkan fakta hukum atas peristiwa tersebut. Oleh karena itu, seluruh keterangan yang disampaikan masing-masing pihak masih merupakan versi dan klaim dari pihak yang bersangkutan, sementara proses penanganan oleh aparat berwenang diharapkan dapat memberikan kepastian berdasarkan hasil pemeriksaan.
Tidak ada komentar