Klaim Diserang dan Dianiaya Dipertanyakan, Keluarga ASG Bongkar Versi Kronologi: “Tidak Ada Penyerangan, Kami Justru Diprovokasi”

waktu baca 3 menit
Selasa, 28 Jul 2026 13:27 255 Redaksi Jambi

Kerinci, 28 Juli 2026 – Narasi yang berkembang di media sosial mengenai klaim Anisa Pratama alias Itek Mamek sebagai korban penyerangan dan penganiayaan kini mendapat bantahan keras dari keluarga ASG. Mereka menilai informasi yang beredar hanya menampilkan sepotong cerita, sehingga membentuk opini publik yang dinilai tidak mencerminkan keseluruhan fakta.

Menurut keterangan ASG kepada media ini, insiden yang terjadi pada 2 Juli 2026 bukan bermula dari aksi penyerangan, melainkan didahului oleh dugaan provokasi berupa teriakan berulang kali di depan rumahnya.

Saat itu, kata ASG, keluarganya sedang menerima tamu yang datang bersilaturahmi. Tidak lama setelah tamu meninggalkan rumah, terdengar teriakan keras dari arah rumah Anisa yang letaknya tepat berhadapan.

“Beliau berteriak, ‘Bayarlah hutang woi, bayarlah hutang woi.’ Saya memilih tidak meladeni dan langsung menghubungi Kepala Desa Sebukar agar menegur beliau. Namun beberapa menit kemudian, ketika mertua saya berada di halaman rumah, teriakan yang sama kembali diulang,” ungkap ASG.

ASG mengaku keluarganya selama ini memilih diam meski persoalan utang terus diangkat melalui media sosial. Ia menegaskan utang yang dipersoalkan tersebut menurutnya telah lama dilunasi.

Merasa terus dituduh memiliki utang yang belum dibayar, situasi akhirnya memanas dan berujung adu mulut yang kemudian viral di media sosial.

“Kalau seseorang diteriaki sebagai orang yang belum membayar utang, padahal menurut kami utang itu sudah lunas, siapa pun pasti akan bereaksi. Kami menduga teriakan itu memang bertujuan mempermalukan keluarga kami di depan masyarakat,” katanya.

Bantah Klaim Penganiayaan

ASG secara tegas membantah adanya penyerangan maupun penganiayaan sebagaimana narasi yang beredar.

Menurutnya, yang terjadi justru upaya menghentikan Anisa dan adiknya yang terus merekam video menggunakan telepon genggam di tengah adu mulut.

“Tidak ada penyerangan atau penganiayaan. Yang ada adalah upaya menghentikan perekaman video karena kami merasa terus diprovokasi. Penjelasan yang sama juga sudah kami sampaikan kepada penyidik Polres Kerinci saat dimintai keterangan,” tegas ASG.

Ia juga mengaku keluarganya telah lama menjadi sasaran unggahan di media sosial yang menurutnya berisi tuduhan, penghinaan, hingga menyeret anggota keluarga lain, termasuk orang tuanya yang telah meninggal dunia.

Publik Diminta Tidak Menghakimi dari Satu Narasi

Pengamat media sosial Ridho menilai masyarakat perlu lebih bijak menyikapi informasi yang viral, terutama apabila peristiwa tersebut baru disampaikan dari satu sudut pandang.

“Media sosial sering kali hanya menampilkan potongan kejadian. Karena itu masyarakat jangan terburu-buru menghakimi sebelum seluruh kronologi dan keterangan dari semua pihak diketahui,” ujarnya.

Ridho mengingatkan bahwa penyebaran informasi yang belum utuh berpotensi membentuk opini yang keliru dan bahkan dapat merugikan pihak lain.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa setiap peristiwa memiliki lebih dari satu versi. Oleh sebab itu, proses klarifikasi, pemeriksaan aparat penegak hukum, dan penyampaian keterangan dari seluruh pihak merupakan bagian penting untuk memperoleh gambaran yang utuh.

Catatan Redaksi: Berita ini memuat keterangan dari pihak keluarga ASG sebagai salah satu pihak yang terlibat dalam peristiwa tersebut. Media tetap membuka ruang hak jawab dan hak koreksi kepada Anisa Pratama (Itek Mamek) maupun pihak lain yang disebut dalam pemberitaan, sesuai ketentuan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA