Detikkasus.co.id, Internasional – Publik tanah air dikejutkan oleh pengakuan terbuka seorang mahasiswa asal Jalur Gaza, Palestina, bernama Ahmed Shorafa. Melalui unggahan di akun media sosial pribadinya, Ahmed secara terang-terangan mengkritik tata kelola penggalangan dana kemanusiaan atas nama Palestina yang marak dilakukan oleh oknum yayasan dan relawan di Indonesia.
Ahmed menyebutkan bahwa jika seluruh dana bantuan yang dikumpulkan dari masyarakat Indonesia benar-benar disalurkan secara utuh tanpa potongan ilegal, wilayah Gaza seharusnya sudah mengalami transformasi luar biasa.
” Jumlah donasi dari Indonesia saja sebenarnya sudah cukup untuk membangun Gaza menjadi maju seperti Singapura, bahkan tanpa menghitung bantuan dari negara-negara lain, ” ujar Ahmed dalam pernyataannya. Pada Minggu, 24/05/2026 via call
Ia bahkan memberikan sindiran keras bahwa dengan total dana yang terkumpul selama bertahun-tahun, warga Gaza idealnya sudah hidup makmur dan mampu membeli mobil mewah.
Fakta mengejutkan lainnya yang diungkap oleh Ahmed adalah pengalamannya sendiri yang kerap dijadikan target oleh oknum pencari donasi. Selama dua tahun terakhir tinggal di Indonesia, ia mengaku berulang kali ditawari pekerjaan oleh sejumlah yayasan untuk berkeliling dari masjid ke masjid guna menceritakan penderitaan rakyat Gaza demi menarik simpati jemaah.
Tidak main-main, oknum penggalang dana tersebut menjanjikan bayaran atau upah yang sangat fantastis untuknya. ia mengaku pernah Ditawari Rp1,5 juta per hari hanya untuk berbicara dan meminta donasi. Pendapatan yang dijanjikan bisa menembus Rp45 juta dalam sebulan.
Meski diiming-imingi nominal besar, Ahmed secara tegas menolak tawaran tersebut karena menganggap memotong hak korban perang demi keuntungan pribadi merupakan tindakan yang haram. Ia menilai isu kemanusiaan di tanah airnya telah bergeser menjadi komoditas bisnis oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab.
Melihat fenomena banyaknya potongan yang dilakukan oleh yayasan dan relawan nakal sehingga bantuan yang sampai ke tangan pengungsi hanya tersisa sedikit, Ahmed meminta masyarakat Indonesia untuk lebih selektif.
Ia menyarankan agar masyarakat berhenti menyalurkan bantuan melalui perantara atau lembaga yang tidak memiliki transparansi laporan keuangan yang jelas. Sebagai alternatif yang lebih aman, masyarakat diimbau untuk meminta dokumentasi penggunaan dana secara ketat, atau mengirimkan bantuan langsung lewat saluran transfer yang terverifikasi agar tepat sasaran.
Pernyataan berani Ahmed ini memicu gelombang diskusi besar di kalangan warganet Indonesia. Banyak pihak yang mengapresiasi kejujurannya, namun tidak sedikit pula yang mendesak otoritas terkait untuk segera mengaudit lembaga-lembaga filantropi yang bergerak di bidang kebencanaan dan kemanusiaan internasional guna menjaga amanah para donatur.
Sumber: Muchtadil Anwar
Laporan: Sandy Purwanto
Tidak ada komentar