Janji Pemerintah Pusat Belum Terealisasi Korban Banjir Kota Langsa Timbul Rasa Hilang Kepercayaan Pada Pemko Langsa, Namun Tetap Sabar

waktu baca 5 menit
Jumat, 8 Mei 2026 03:15 131 Perwakilan Aceh

Aceh – Detikkasus.co.id, Bencana banjir hidrometeorologi dahsyat melanda Aceh pada akhir November 2025 tahun lalu. Ribuan warga mengungsi, puluhan jiwa meninggal dunia, serta ribuan rumah rusak akibat terendam banjir dan material longsor. Infrastruktur jembatan terputus, jaringan listrik dan jaringan internet hilang, dan ribuan sawah warga hilang, panen gagal.

Bencana banjir hidrometeorologi juga terjadi di kota Langsa yang menyebabkan puluhan Gampong (desa) dalam 5 kecamatan terdampak. Banjir tersebut menyebabkan warga mengalami kerugian sangat besar, rusaknya rumah, rusaknya fasilitas, bahkan mobil dan sepeda motor juga banyak yang rusak, dan kegiatan perkantoran pemerintah serta swasta, sekolah serta jalan lumpuh dalam wilayah Kota Langsa lumpuh.

Salah seorang Korban banjir, Nurfita 52 tahun, warga Kecamatan Langsa Baro, kepada media ini, Jum’at, 8 Mai 2026 bercerita, rendaman air banjir di dalam rumahnya waktu itu tidak begitu lama, namun banjir tersebut menyisakan lumpur yang memerlukan waktu satu bulan lebih untuk membersihkannya, biaya sangat besar dan juga biaya hidup sulit karena tidak bisa berkerja, panik juga juga, ceritanya.

” Kami merasa lega, pemerintah Kota Langsa hadir saat terjadi banjir membantu biaya hidup waktu itu dengan memberikan bantuan bahan pangan darurat, mendirikan dapur umum, dan memberikan bantuan uang dan beras kepada warga, dan kita pun waktu itu makan di dapur umum”. ceritanya.

Lanjutnya lagi, kami merasa lebih lega lagi janji pemerintah pusat akan memberikan bantuan dan perbaikan rumah yang rusak akibat banjir, memberikan bantuan jaminan hidup, bantuan ekonomi, serta bantuan gati rugi mebel rusak, sampai saat ini malah sudah didemo dua kali di depan. Kantor pemerintah Kota Langsa, juga pemerintah pusat belum memberikan informasi kapan bantuan korban banjir turun, ucapnya.

Lanjutnya, jangan biarkan kami para korban banjir mencurigai pemerintah Kota Langsa, seakan-akan dana bantuan banjir di mainkan oleh mereka, ucapnya kesal sama pemerintah pusat terutama BNPB, Kemensos, dan kementerian dalan negeri, lambat, informasi pun tidak ada kapan dana itu turun.

Sambungan rekannya yang juga warga kecamatan Langsa baro, ” akan tetapi setelah berjalan hampir 5 bulan setalah banjir ribuan warga Kota Langsa belum semuanya menikmati bantuan jaminan hidup, ekonomi, dan bantuan mebel rusak yang di janji pemerintah pusat saat ini, akibatnya Pemerintah Kota Langsa di demo warga, bahkan warga mencurigai pemerintah Kota Langsa tidak respek dengan para korban banjir, pada hal siang malam pemerintah Kota bekerja demi warga”. Sebutnya.

Pemerhati banjir hidrometeorologi Kota Langsa, Novradhil Andrio (Rio), yang juga pengiat media, atas perhatian dan perkembangan usaha pemerintah Kota Langsa menyebutkan, Pemerintah Kota Langsa, sejak banjir terjadi sampai saat terus ini terus berusaha membantu warganya sendiri, namun apalah daya keputusan bantuan – bantuan itu berada di pusat, dan berada di Lembaga-lembaga seperti Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian sosial Republik Indonesia, dan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), pemerintah Kota Langsa hanya sebatas mengusulkan, walaupun begitu warga di harapkan mendukung pemerintah Kota Langsa, agar bantuan korban banjir yang telah di usul ke pemerintah pusat tidak di anulir, agar apa yang telah di usulkan dan di harapkan oleh para warga korban banjir bisa segera turun, walaupun bertahap-tahap namun bantuan pasti ada, kesabaran semua warga dan pemerintah Kota Langsa sangat di perlukan.

Pemerintah Kota Langsa tidak tinggal diam begitu saja untuk segera bantuan – bantuan sampai ditangan korban banjir seperti yang telah di janjikan oleh pemerintah pusat. Kita mendukung usaha dan upaya Pemerintah Kota Langsa demi warganya, walau disana sini ada reaksi negatif sebagian warga, seakan-akan Pemerintah Kota Langsa tidak berusaha dan mempercepat bantuan bagi korban banjir.

Kita juga ketahui, Pemerintah Kota Langsa juga bekerja sesuai dengan aturan yang ada, agar tidak terjadi masalah dikemudian hari dan menjadi korban melanggar aturan yang sudah di atur tentang mekanisme penyaluran bantuan.

Walikota Langsa Jeffry Sentana S Putra, SE, di hadapan warga saat demo beberapa waktu lalu sudah menegaskan bahwa Pemko Langsa memahami aspirasi yang disampaikan oleh masyarakat dan menjadikannya sebagai bagian penting dalam evaluasi kinerja pemerintah, khususnya dalam penanganan pascabencana.

Bantuan ini tidak sama seperti bantuan sebelumnya seperti Bantuan Langsung Tunai sebesar 200 ribu dan Bantuan Langsung Pangan berupa beras yang bersumber dari APBK seperti sudah pernah Pemko Langsa salurkan.

Untuk bantuan yang bersumber dari pemerintah pusat kami hanya bisa mengusulkan dan kemudian menyalurkan sesuai dengan juknisnya.

“Pemerintah Kota Langsa berkomitmen bahwa seluruh dana bantuan banjir yang belum tersalurkan akan segera dicairkan kepada masyarakat yang berhak, sesuai dengan ketentuan dan regulasi yang berlaku, tanpa adanya diskriminasi maupun praktik yang tidak dibenarkan,” tegas Wali Kota dalam keterangan resminya.

Lebih lanjut disampaikan, apabila terjadi kesalahan dalam penggunaan dana bantuan perbaikan rumah dari mulai proses pendataan hingga penyaluran bantuan maka kami menyerahkan sepenuhnya kepada Aparat Penegak Hukum (APH) sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

Selain itu, Walikota Langsa juga menjelaskan bahwa sejumlah langkah penertiban dan normalisasi, termasuk penataan Pedagang Kaki Lima (PKL), merupakan bagian dari upaya dalam mencegah terjadinya banjir di masa mendatang, khususnya melalui pembersihan saluran drainase pasar.

Ia juga menegaskan bahwa akan melaporkan melaporkan kepada Aparat Penegak Hukum (APH) jika terdapat oknum didalam jajaran Pemko Langsa yang diduga melakukan tindak pidana korupsi.

“Kami terbuka terhadap pengawasan dan siap bekerja sama dengan seluruh pihak, termasuk aparat penegak hukum, guna memastikan penyaluran bantuan berjalan transparan, akuntabel, dan tepat sasaran,” tambahnya.

Kesabaran menghadapi bencana adalah tindakan proaktif yang menggabungkan ikhlas, istiqamah, dan ikhtiar untuk bangkit. Ini bukan sekadar diam, melainkan menerima ujian sebagai ketetapan Allah SWT, menjaga emosi, serta meyakini adanya hikmah. Sabar dan salat menjadi penolong utama untuk menenangkan jiwa dan mempermudah jalan keluar dari kesulitan, Amin.(Mtf)

Perwakilan Aceh

Mustafa
NIR : 035/RED/DK/2026
Phone +62 812 1554 8142

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA