Siang Terik, Malam Menggigil! Warga Sukabumi Keluhkan Cuaca Ekstrem, BMKG Ungkap Penyebabnya”

waktu baca 6 menit
Selasa, 14 Jul 2026 02:26 33 Biro Kab Sukabumi

Detikkasus.co.id|SUKABUMI,-Warga Sukabumi dan sekitarnya belakangan ini mengeluhkan kondisi cuaca yang terasa ekstrem. Pada pagi hingga sore hari, terik matahari terasa begitu menyengat kulit, bahkan suhu udara di beberapa titik terasa lebih gerah dari biasanya.

Namun uniknya, ketika memasuki malam hingga dini hari, suhu udara langsung terjun bebas hingga membuat suasana malam terasa dingin menusuk tulang, informasi dari BMG hari Senin, tanggal (13/07/2026).

Fenomena perubahan suhu yang kontras antara siang dan malam ini memicu banyak pertanyaan di masyarakat. Apakah ini tanda-tanda anomali cuaca yang berbahaya?

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan penjelasan ilmiah terkait fenomena tahunan ini. Dalam istilah masyarakat Jawa, kondisi ini sering disebut sebagai musim bediding, sebuah siklus alamiah yang menandai puncak musim kemarau.

1. Peran Penting Angin Monsun Australia

Penyebab utama dari dinginnya suhu malam hari di Sukabumi adalah aktifnya Angin Monsun Australia. Pada periode Juli hingga Agustus, benua Australia sedang mengalami puncak musim dingin. Tekanan udara yang tinggi di Australia menyebabkan massa udara bergerak menuju Asia melewati wilayah Indonesia, yang dikenal sebagai Monsun Dingin Australia.

Angin yang bertiup dari daratan Australia ini memiliki karakteristik yang sangat kering dan bersuhu rendah. Ketika massa udara dingin ini melewati wilayah Jawa Barat, termasuk Sukabumi yang secara geografis berada di dekat pesisir selatan dan dikelilingi pegunungan, suhu udara lokal otomatis ikut menurun drastis pada malam hari.

2. Fenomena Langit Tanpa Awan (Clear Sky)

Mengapa siang hari terasa sangat panas sementara malamnya sangat dingin? Jawabannya terletak pada tingkat kelembapan udara dan tutupan awan.

Memasuki puncak kemarau, kandungan uap air di atmosfer sangat rendah. Hal ini menyebabkan pembentukan awan menjadi sangat minim, sehingga langit terlihat bersih (clear sky) sepanjang hari. Kondisi langit yang bersih ini memberikan dua dampak yang bertolak belakang:

• Pada Siang Hari: Tidak adanya selimut awan membuat radiasi sinar ultraviolet (UV) dari matahari langsung memapar permukaan bumi tanpa ada penghalang. Akibatnya, pemanasan permukaan bumi menjadi optimal dan suhu udara di Sukabumi pada siang hari terasa sangat menyengat dan terik.

• Pada Malam Hari: Permukaan bumi yang telah menerima panas sepanjang siang akan melepaskan energi panas tersebut kembali ke atmosfer dalam bentuk radiasi gelombang panjang.

Jika ada awan, panas ini akan dipantulkan kembali ke bumi (efek rumah kaca alami). Namun, karena langit bersih tanpa awan, energi panas tersebut langsung lolos ke luar angkasa tanpa ada yang menahan. Proses pelepasan panas yang instan inilah yang membuat suhu udara di Sukabumi anjlok drastis menjelang tengah malam.

Geografis Sukabumi Memperkuat Suhu Dingin

Faktor topografi juga turut memengaruhi mengapa Sukabumi terasa lebih dingin dibandingkan wilayah dataran rendah lainnya. Sukabumi memiliki wilayah yang bervariasi dari pesisir hingga pegunungan seperti kawasan lereng Gunung Gede-Pangrango dan Gunung Salak.

Udara dingin yang bersifat lebih padat dan berat secara alami akan mengalir turun dari puncak-puncak gunung menuju lembah dan dataran yang lebih rendah pada malam hari (angin gunung). Hal ini membuat penurunan suhu di wilayah pemukiman Sukabumi menjadi semakin intensif.

Tips Menghadapi Cuaca Ekstrem Kemarau

BMKG mengimbau masyarakat Sukabumi untuk tetap menjaga kondisi kesehatan tubuh di tengah perbedaan suhu yang fluktuatif ini. Perubahan suhu yang tajam antara siang dan malam dapat menurunkan imunitas tubuh, sehingga rentan terhadap penyakit saluran pernapasan (ISPA), flu, dan kulit kering.

Beberapa langkah antisipasi yang bisa dilakukan antara lain:

• Menjaga Hidrasi: Perbanyak minum air putih pada siang hari untuk mencegah dehidrasi akibat cuaca terik dan udara kering.

Penyebab utama dari dinginnya suhu malam hari di Sukabumi adalah aktifnya Angin Monsun Australia. Pada periode Juli hingga Agustus, benua Australia sedang mengalami puncak musim dingin. Tekanan udara yang tinggi di Australia menyebabkan massa udara bergerak menuju Asia melewati wilayah Indonesia, yang dikenal sebagai Monsun Dingin Australia.

Angin yang bertiup dari daratan Australia ini memiliki karakteristik yang sangat kering dan bersuhu rendah. Ketika massa udara dingin ini melewati wilayah Jawa Barat, termasuk Sukabumi yang secara geografis berada di dekat pesisir selatan dan dikelilingi pegunungan, suhu udara lokal otomatis ikut menurun drastis pada malam hari.

2. Fenomena Langit Tanpa Awan (Clear Sky)

Mengapa siang hari terasa sangat panas sementara malamnya sangat dingin? Jawabannya terletak pada tingkat kelembapan udara dan tutupan awan.

Memasuki puncak kemarau, kandungan uap air di atmosfer sangat rendah. Hal ini menyebabkan pembentukan awan menjadi sangat minim, sehingga langit terlihat bersih (clear sky) sepanjang hari. Kondisi langit yang bersih ini memberikan dua dampak yang bertolak belakang:

• Pada Siang Hari: Tidak adanya selimut awan membuat radiasi sinar ultraviolet (UV) dari matahari langsung memapar permukaan bumi tanpa ada penghalang. Akibatnya, pemanasan permukaan bumi menjadi optimal dan suhu udara di Sukabumi pada siang hari terasa sangat menyengat dan terik.

• Pada Malam Hari: Permukaan bumi yang telah menerima panas sepanjang siang akan melepaskan energi panas tersebut kembali ke atmosfer dalam bentuk radiasi gelombang panjang.

Jika ada awan, panas ini akan dipantulkan kembali ke bumi (efek rumah kaca alami). Namun, karena langit bersih tanpa awan, energi panas tersebut langsung lolos ke luar angkasa tanpa ada yang menahan. Proses pelepasan panas yang instan inilah yang membuat suhu udara di Sukabumi anjlok drastis menjelang tengah malam.

Geografis Sukabumi Memperkuat Suhu Dingin

Faktor topografi juga turut memengaruhi mengapa Sukabumi terasa lebih dingin dibandingkan wilayah dataran rendah lainnya. Sukabumi memiliki wilayah yang bervariasi dari pesisir hingga pegunungan seperti kawasan lereng Gunung Gede-Pangrango dan Gunung Salak.

Udara dingin yang bersifat lebih padat dan berat secara alami akan mengalir turun dari puncak-puncak gunung menuju lembah dan dataran yang lebih rendah pada malam hari (angin gunung). Hal ini membuat penurunan suhu di wilayah pemukiman Sukabumi menjadi semakin intensif.

Tips Menghadapi Cuaca Ekstrem Kemarau

BMKG mengimbau masyarakat Sukabumi untuk tetap menjaga kondisi kesehatan tubuh di tengah perbedaan suhu yang fluktuatif ini. Perubahan suhu yang tajam antara siang dan malam dapat menurunkan imunitas tubuh, sehingga rentan terhadap penyakit saluran pernapasan (ISPA), flu, dan kulit kering.

Beberapa langkah antisipasi yang bisa dilakukan antara lain:

• Menjaga Hidrasi: Perbanyak minum air putih pada siang hari untuk mencegah dehidrasi akibat cuaca terik dan udara kering.

Gunakan Pakaian Hangat: Siapkan jaket, selimut tebal, atau pakaian hangat saat beraktivitas di luar rumah pada malam dan dini hari.

• Gunakan Pelembap Kulit: Udara kering khas Monsun Australia dapat membuat kulit dan bibir mudah pecah-pecah; penggunaan lotion atau pelembap sangat disarankan.

Fenomena cuaca ini diprediksi masih akan berlangsung sepanjang periode puncak musim kemarau. Masyarakat diharapkan tidak panik karena ini merupakan siklus atmosferik normal yang terjadi setiap tahunnya di Indonesia.

(Sandra Wijaya)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA