Sumbawa|NTB, detikkasus.co.id, (12 Mei 2026),— Gelombang penolakan terhadap dugaan aktivitas tambang ilegal di wilayah selatan Kabupaten Sumbawa kembali memanas. Aliansi Masyarakat Selatan Peduli Lingkungan menggelar aksi demonstrasi di simpang Desa Lito, Kecamatan Moyo Hulu, Senin (11/5/2026), sekitar pukul 09.00 Wita.
Aksi tersebut dipenuhi teriakan perlawanan dan kecaman keras terhadap dugaan pembiaran aktivitas ilegal mining yang dinilai semakin merusak lingkungan dan mengancam kehidupan masyarakat. Massa aksi membawa berbagai pamflet dan spanduk bertuliskan “Hentikan Aktivitas Tambang Ilegal”, sebagai simbol kemarahan masyarakat terhadap kondisi yang dianggap semakin darurat.
Dalam orasinya, Koordinator Umum aksi, , menyampaikan kritik tajam terhadap pemerintah dan pihak terkait yang dinilai belum serius menangani persoalan tambang ilegal di wilayah Kecamatan Lantung dan sekitarnya.
“Saya prihatin melihat persoalan yang terjadi di Kabupaten Sumbawa, khususnya masyarakat wilayah selatan. Hari ini kita menyaksikan adanya pembiaran terhadap aktivitas ilegal mining yang terjadi di Kecamatan Lantung. Kondisi ini bukan hanya menjadi ancaman bagi lingkungan, tetapi juga mengancam kehidupan masyarakat yang selama ini menggantungkan hidup dari tanah dan hasil pertanian,” tegas Sadam di hadapan massa aksi.
Menurutnya, masyarakat selatan kini mulai merasakan dampak nyata dari aktivitas pertambangan yang diduga tidak terkendali. Ia menyebut hasil pertanian masyarakat mulai menurun, kualitas lingkungan memburuk, hingga muncul kekhawatiran terhadap limbah dari aktivitas tilling maupun aktivitas tambang lainnya.
“Kita sebagai masyarakat selatan harus sadar, jangan sampai alam menjawab semua kelalaian ini dengan bencana. Hari ini yang kita bicarakan bukan sekadar persoalan tambang, tetapi tentang luka-luka masyarakat selatan yang semakin hari semakin terasa,” ujarnya lantang.
Suasana aksi berlangsung penuh semangat. Massa secara bergantian menyampaikan aspirasi sambil menyerukan penyelamatan lingkungan dan masa depan masyarakat selatan. Mereka menilai, kerusakan alam yang terjadi hari ini dapat menjadi ancaman serius bagi generasi mendatang apabila tidak segera dihentikan.
Sadam juga menegaskan bahwa perjuangan masyarakat tidak akan berhenti pada aksi kali ini. Ia memastikan Aliansi Masyarakat Selatan Peduli Lingkungan akan kembali turun ke jalan dalam aksi jilid II dengan jumlah massa yang lebih besar apabila tuntutan mereka tidak direspons serius.
“Perjuangan ini tidak akan berhenti sampai di sini. Suara masyarakat selatan akan terus kami serukan sampai benar-benar didengar oleh pemerintah dan semua pihak terkait. Ini adalah bentuk kepedulian terhadap tanah kelahiran kita, terhadap masa depan anak cucu kita, dan terhadap hak masyarakat untuk hidup di lingkungan yang sehat dan aman,” katanya.
Lebih lanjut, ia mengajak generasi muda di wilayah selatan untuk tidak tinggal diam melihat kondisi alam yang mulai terancam akibat kepentingan segelintir pihak.
“Hari ini juga menjadi pembuktian bagi kaum muda selatan, bagaimana kita menumbuhkan rasa cinta terhadap tanah kita sendiri. Kita tidak boleh diam ketika tanah yang menjadi sumber kehidupan mulai dirusak oleh kepentingan yang tidak bertanggung jawab,” tambahnya.
Aliansi Masyarakat Selatan Peduli Lingkungan menegaskan, aksi ini merupakan bentuk perlawanan moral masyarakat demi menjaga kelestarian tanah selatan dari ancaman kerusakan lingkungan yang lebih parah. Mereka juga mendesak pemerintah dan aparat penegak hukum segera turun tangan menindak tegas segala bentuk aktivitas tambang ilegal yang meresahkan masyarakat.
“Oleh karena itu, kami menegaskan bahwa seruan aksi jilid II akan segera kami laksanakan dalam waktu dekat dengan massa aksi yang lebih besar. Ini bukan sekadar aksi, tetapi bentuk komitmen bersama untuk menjaga tanah selatan agar tetap lestari dan tidak diwariskan dalam keadaan rusak kepada generasi berikutnya,” tutup Sadam. (Fr)
Tidak ada komentar