KERAN BBM BOCOR DI BUMI KHATULISTIWA: Menelusuri Jejak Mafia BBM Subsidi di Kalimantan Barat

waktu baca 2 menit
Rabu, 29 Apr 2026 15:16 114 Redaksi : Rd

PONTIANAK Detikkasus co.id – Di balik rimbunnya hutan sawit dan aliran sungai yang membelah Kalimantan Barat, sebuah praktik lancung terus menggerogoti kas negara. Bukan lagi rahasia, namun sulit disentuh: Penyelundupan BBM Bersubsidi.

Hasil investigasi tim di lapangan mengungkap bahwa jalur distribusi BBM subsidi, khususnya Solar, telah berubah menjadi “tambang emas” bagi oknum mafia yang bekerja rapi dengan jaringan terorganisir.

Modus: Dari “Helikopter” hingga Gudang Ilegal

Praktik ini tidak dilakukan secara amatir. Di beberapa SPBU di jalur lintas provinsi, terpantau antrean kendaraan yang telah dimodifikasi tangkinya—oleh warga lokal sering disebut sebagai “Mobil Helikopter”. Mobil-mobil ini mengantre berkali-kali dalam sehari untuk menyedot Solar subsidi, yang kemudian dipindahkan ke jeriken-jeriken di gudang tersembunyi.

“Mereka punya jadwal. Begitu tangki penuh, masuk hutan, bongkar, lalu balik lagi ke antrean. Polanya konsisten,” ujar seorang sumber anonim yang tinggal di dekat salah satu titik penimbunan di daerah pesisir Kalbar.

Ke Mana Aliran Minyak Tersebut?

Investigasi kami menemukan dua muara utama dari minyak “curian” ini:

1. Sektor Perkebunan dan Pertambangan: Alih-alih membeli Solar industri dengan harga normal, banyak alat berat di lokasi tambang ilegal dan konsesi sawit menengah menggunakan Solar subsidi yang dipasok oleh para pengepul.

2. Lintas Batas: Posisi geografis Kalbar yang berbatasan langsung dengan Malaysia menjadikan disparitas harga sebagai motivasi utama penyelundupan lintas negara melalui jalan-jalan tikus.

Dampak Nyata: Nelayan dan Petani Tercekik

Ironisnya, saat para mafia meraup untung besar, warga kecil justru gigit jari. Nelayan di daerah Ketapang dan Sambas seringkali harus pulang dengan tangan hampa karena stok Solar di SPBN (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan) habis dalam hitungan jam.

“Kami yang punya kartu subsidi malah sering tidak kebagian. Katanya stok kosong, tapi di tengkulak barangnya ada, cuma harganya sudah harga ‘cekik leher’,” keluh seorang nelayan lokal.

Lemahnya Pengawasan atau Pembiaran?

Meski pihak berwenang sering melakukan penggerebekan, praktik ini seolah mati satu tumbuh seribu. Pengamat kebijakan publik menilai bahwa tanpa pengawasan digital yang ketat di setiap nosel SPBU dan penindakan tegas terhadap “pemain besar” di balik layar, Kalbar akan terus menjadi lumbung kebocoran subsidi.

Kini, bola panas ada di tangan aparat penegak hukum dan Pertamina. Akankah keran bocor ini ditutup rapat, atau tetap dibiarkan mengalir demi memperkaya segelintir kelompok.

Tim : Detikkasus

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA